Rabu, 12 Juni 2013

Karanggetas dan Kali Sukalila

Setelah Syekh Magelung bertemu nelayan yang sanggup memotong rambutnya di tepi kali kecil di daerah Karanggetas, beliau hendak mengucapkan terima kasih kepada nelayan tersebut. Namun sang nelayan telah hilang entah ke mana. 
---
Jl. Karanggetas dan Jl. Sukalila Selatan dari sudut Jembatan Kali Sukalila

Karanggetas

Karanggetas menjadi "jembatan" penghubung antara pusat keramaian (Pangeran) Kejaksan dan pusat keramaian (Pangeran) Panjunan. (Baca  Syekh Nurjati)

Konon, nama Karanggetas adalah sebuah perumpamaan Karang yang keras pun akan bisa rapuh atau getas. Segala kemujaraban obat dan kesaktian ilmu kanuragan dapat sirna di Karanggetas.

Karanggetas menjadi penanda tempat dipotongnya rambut Syekh Magelung oleh Mbah Kuwu Sangkan. Versi lain mengatakan, yang mampu mencukur rambut Syekh Magelung adalah Sunan Gunung Jati. Versi Mbah Kuwu Sangkan maupun Sunan Gunung Jati mempunyai persamaan, yaitu memotong rambut Syekh Magelung saat menyamar sebagai seorang nelayan.

Konon, sebutan Magelung, karena rambutnya yang panjang, bahkan sampai tergerai ke tanah, tak bisa dipotong. Sehingga beliau menggelung (memelintir dan mengkonde/menyanggul) rambutnya, seperti para resi.

Ketika saya masih kecil, sebagian besar masyarakat Cirebon (termasuk almarhumah nenek saya semasa hidupnya) menganggap tabu mengungkap cerita seputar Karanggetas. Kejadian "aneh" di masa lalu ataupun yang baru dialami di wilayah itu, tidak boleh diceritakan kepada siapa pun. Dipercaya, siapa pun yang berani bercerita, akan mengalami hilang ingatan bahkan sampai hilang nyawa. Di percaya, Karanggetas juga merupakan titik portal antara dimensi alam manusia dan alam jin. Sekaligus sebagai wilayah netral perbatasan antara ilmu hitam dan ilmu putih.
Tengara Jalan Karanggetas dari sudut Jembatan Kali Sukalila

Kali Sukalila

Setelah Syekh Magelung bertemu nelayan yang sanggup memotong rambutnya di tepi kali kecil di daerah Karanggetas, beliau hendak mengucapkan terima kasih kepada nelayan tersebut. Namun sang nelayan telah hilang entah ke mana. Di tepi kali kecil itu, Syekh Magelung menyatakan "Suka" dan "Lillahi ta'ala". Untuk itu, kali kecil itu diberi nama Sukalila. Syekh Magelung pun mendapat sebutan Pangeran Sukalila atau Pangeran Soka.
Tengara Jalan Sukalila Selatan dari sudut Jembatan Kali Sukalila


Wallahu alam bi sawab

===
Baca juga:
- Puser Bumi Gunung Jati Cirebon 
- Alun-alun Kejaksan

2 komentar:

  1. interesting articles and commentaries friend, I became interested in reading, I introduce a new blogger from Indonesia origin. greetings

    BalasHapus